Menjaga

Aku sangat sedang merindukan tulisan namun sayangnya aku sedang tidak bisa lancar menulis. Beberapa kali kusempatkan untuk blogwalking, setidaknya aku masih bisa menguyah sekumpulan tulisan indah dari orang-orang yang kutemui di dunia jaringan bernama internet ini. Dan anehnya, dari sekian tulisan yang sempat kubaca, sebagian besar adalah tentang kehilangan dan perasaan yang amat sulit untuk dideskripsikan karenanya.

Apakah kamu pernah merasakan kehilangan beberapa orang istimewamu dalam hanya jangka waktu 10 tahun? Aku sendiri tidak pernah terbayang akan hal itu. Namun, ada dari kita yang pernah melewatinya dengan sekumpulan perasaan yang dia pikir tidak akan ada orang yang mengerti perasaannya saat itu, atau bahkan sampai kini. Beberapa dari kita mungkin tidak pernah menyadari tentang berharganya seseorang dalam hidup kita, terdengar klise, namun untuk kali ini sepertinya ini serius. Ah ya, susah sekali untuk meyakinkan.

Wanna see the complete one? Click Menjaga :)

“Is there suffering on this new earth? On our earth we can truly love only with suffering and through suffering! We know not how to love otherwise. We know no other love. I want suffering in order to love.”
— Dostoevsky’s The Dream of a Ridiculous Man
“Betapa ajaibnya anak-anak kecil ini. Bisa mengubah panas dengan derai tawainya. Melupakan macet dengan menyanyi sepotong-sepotong. Untung ada mereka saat ini. Setidaknya, saya bisa sedikit lupa kalau sedang tertahan macet saat waktu benar-benar mengancam.”

140 Karakter Saat Itu

Pernah suatu hari saya menemukan tulisan kurang dari 140 karakter yang menyingkap perhatian dari deretan linimasa. Kira-kira isinya “Ada saatnya kita berjuang untuk sesuatu yang tidak kita mengerti”. Saya lupa account mana yang menciptakan rangkaian kata tadi. Sejenak saya berpikir saat itu, apakah iya? Benarkah ada kenyataan seperti itu? Entah apa yang membuat saya ingin meretweetnya. Sampai pada akhirnya saya tahu maksud dan rasa dibalik kata-kata itu. Tidak mengerti bukan berarti kita benar-benar tidak paham atas apa yang kita lakukan. Hanya saja kita yang terlalu naif untuk mengakui, menutupinya dengan kepura-puraan. Yang tadinya begitu lucu sampai akhirnya membuat kelu. Takut mati rasa.

Halo………halo?

Rupiah, betapa mudah kita menghabiskannya dalam hitungan menit namun sulit untuk mendapatkannya meski dalam hitungan jam. Itu yang benar-benar saya rasakan hari ini. Menjadi petugas polling survey mengenai salah satu isu di Indonesia, di salah satu media riset grup stasiun televisi. Puluhan nomor telepon dihubungi, hanya untuk menanyakan 7 soal dengan jawaban “ya” “tidak” “tidak tahu”. Dan, ternyata tidak semua penduduk Jakarta bisa menjawab pertanyaan dengan ramah, ada yang malah marah-marah di awal, mematikan telepon, dan (pura-pura) sibuk.

Contohnya:

“Halo, selamat pagi ibu. Saya Retno, dari ….riset, sedang melakukan sur…”

“Aduh maaf ya mbak, saya belum matiin kompor”

*klik*

Ada lagi….

“Halo, selamat sore ibu. Saya Retno dari ….riset, sedang melakukan sur…”

“Besok aja deh mbak, saya lagi mandi”

*klik* *kemudian hening*

Itu cuma 2 contoh dari puluhan penolakan lainnya yang saya terima hari ini, pada awalnya sih sakit hati, lama kelamaan saya mulai terbiasa dan bisa mempelajari watak warga jakarta dilihat dari range umurnya. Penolakan-penolakan pada umumnya dilakukan oleh ibu-ibu berusia 30-50 yang mungkin memang sedang sibuk atau apalah itu. Jujur, saya lebih senang apabila telepon saya diterima mahasiswa maupun lansia. Karena mereka jauh lebih menghargai, mau mendengarkan, mau menanggapi. Saya cuma butuh ketiga hal itu. Meski suara saya benar-benar habis sekarang, tapi saya senang telah banyak berkomunikasi via telepon dengan berbagai lapisan warga Jakarta, kota yang isinya benar-benar pluralis, namun menyenangkan untuk dipahami.

Saya kenapa?

Ini saya yang terlalu sibuk, terlalu acuh tak acuh, atau terlalu masa bodoh? Belakangan ini merasa terlalu tenggelam pada urusan kampus, entah kuliah ataupun organisasi. Sampai pada akhirnya melupakan urusan pribadi dan keluarga di rumah. Sedang merasa menjadi anak yang tidak peduli dengan keadaan rumah, mengobrol pun jarang, lebih sering berbincang dengan laptop dan buku sesekali. Weekend pun tidak begitu menyelamatkan keadaan, tetap saja sibuk sendiri. Rasanya ingin membayar semua hutang-hutang kebersamaan, yang sebelumnya baik-baik saja. Semoga hidup saya akan kembali normal pada waktu dekat.

“Terkadang kita harus mengorbankan sesuatu yang kecil namun berat ketika melepaskan, untuk mendapatkan sesuatu yang besar namun diperlukan keekstreman.”
— Reandine

Aku Bertahan

Rio Febrian

Listen

septarizky:

Rio Febrian - Aku Bertahan

Tiba-tiba suka sama lagu ini, liriknya terlebih

“:’(((”

Tolong!

Sedang berada di situasi yang paling tidak menyenangkan. Ketika semua beban bergumul menjadi satu, berharap bisa dikurangi satu persatu. Tipikal orang yang mudah stress seperti saya ini, sangat buruk dalam memisahkan urusan kerjaan, kuliah, dan pribadi. Semuanya bisa saja kena imbas ketika hanya salah satu diantaranya saja yang sedang saya pusingkan. Refreshing pun rasanya tidak begitu berpengaruh dalam mengurangi tingkat kestresan yang semakin menggila ini. Semakin dikejar, semakin ingin cepat selesai. Padahal kelihatannya tidak ada yang begitu perlu dipusingkan, hanya saja saya sedang penuh kekhawatiran tentang tanggung jawab di beberapa kotak yang menggemaskan ini. Semoga semua akan berakhir dengan baik-baik saja.